Kemerdekaan Hakiki

Makna dari Kemerdekaan,

BEGITU banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan itu wajib kita syukuri terutama nikmat iman dan islam. Begitu pula dengan momen kemerdekaan yang selalu diperingati pada tanggal 17 Agustus adalah momen yang harus kita syukuri.

Sebagaimana kita ketahui Hari Kemerdekaan ini diproklamirkan oleh Ir. Soekarno dan Moch. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 Ramadhan yang mana Jum’at adalah sayyidul ayyaam (raja nya hari) dan Ramadhan adalah sayyidussyuhur (raja nya bulan).

Lalu bagaimana cara kita mensyukuri nikmat ini? Caranya yaitu kita mensyukurinya dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Mensyukuri dengan hati yakni dengan meyakini bahwa nikmat kemerdekaan itu datangnya dari Allah SWT. Mensykuri dengan lisan yakni dengan mengucapkan bahwa nikmat itu datangnya dari Allah SWT, bahwa kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan dan tetesan keringat para syuhada, alim ulama, asatidz, dan para santri.

Adapun mensyukuri dengan perbuatan yaitu dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang menunjukkan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Bukan mengisinya dengan kemaksiatan tapi justru diperingati dengan amalan Ketakwaan. Maka perlu kita evaluasi bagaimana cara bersyukur kita selama ini, jangan sampai ada cara cara memperingati kemerdekaan dengan kemaksiatan.

Contoh : Membuat Parade atau Karnaval dengan musik dan berjoged – joged di tempat umum, ini merupakan hal hal yang sia-sia dan bukan akhlak yang terpuji menurut islam.

Kita memang sudah Merdeka, TAPI MEREDEKA secara FISIK,  pada hakikatnya kita masih dijajah oleh orang – orang Asing dalam bidang ekonomi, politik, keamanan, pendidikan, kesehatan dan sosial budaya.

Nyatanya negara kita belum memiliki kedaulatan yang penuh. Negeri ini masih dicengkram oleh kekuasaan asing.

Contoh ;

  • Bidang politik dan ekonomi seperti Freeport, Exxon Mobil, Shell, Chevron, Newmont, yang menguasai pengelolaan sumber daya alam di Indonesia adalah penyebabnya. Nabi Shallallahu alaihi wa salam bersabda,

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ 

“Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal : dalam air, padang rumput [gembalaan], dan api.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah).

(Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1140).

Makna Takhrij hadis diatas, Tiga hal tersebut yang tak boleh dimonopoli :

  1. Air meliputi lautan, sumber mata air
  2. Rumput meliputi Hutan,
  3. Api meliputi batubara, tambang emas, gas alam.

Terkait kepemilikan umum, Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal.

Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul Saw. untuk dapat mengelola  sebuah tambang garam,

Rasul saw. lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda, apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.” (HR at-Tirmidzi).

Mau al-iddu adalah air yang jumlahnya berlimpah sehingga mengalir terus-menerus.  Hadis tersebut menyerupakan tambang garam yang kandungannya sangat banyak dengan air yang mengalir.  Semula Rasullah saw. memberikan tambang garam kepada Abyadh.

Ini menunjukkan kebolehan memberikan tambang garam (atau tambang yang lain) kepada seseorang.

Namun, ketika kemudian Rasul saw. mengetahui  bahwa tambang tersebut merupakan tambang yang cukup besar yang digambarkan bagaikan air yang terus mengalir, maka beliau mencabut kembali pemberian itu. Dengan kandungannya yang sangat besar itu, tambang tersebut dikategorikan sebagai milik bersama (Milik Umum).

Berdasarkan hadis ini, semua milik umum TIDAK BOLEH dikuasai oleh individu, kelompok, termasuk swasta dan asing.

 

  • Bidang pendidikan, kesehatan dan keamanan diantaranya ; Di dalam Kitab al-Iqtishadiyyah al-Mutsla disebutkan bahwa jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar (hajah asasiyyah) bagi seluruh rakyat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan bagian dari fasilitas umum, yang diberikan secara cuma-cuma (gratis) karena itu semua merupakan tanggungjawab seorang pemimpin dalam negara terhadap rakyatnya.  

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وعَنْ ابْنِ عُمَر رضي الله عنهما عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ 
” رواه البخاري ( 7138 ) ومسلم ( 1829 ) .

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. 

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. 

Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.

Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

(Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 7138 dan Muslim 1829)

 

 
  • Bidang sosial dan budaya diantaranya; tata cara dan gaya hidup masyarakat yang mengikuti kaum kuffar dan musyrikin dari mulai ritual ibadah dan muamalah yang sangat bertentangan dengan nilai nilai islam, seperti kaum LGBT, ritual menyembah berhala yaitu adat istiadat kepercayaan dalam ritual ibadah seperti mitos, Hedonisme yaitu tujuan hidupnya hanya mencari kesenangan dan popularitas, kecanduan Minuman Keras, Musik KPOP (Musik yang melalaikan) dan Perzinaan tersebar luas. Semua itu bagian dari fenomena wabah penyakit Al- Wahn “Cinta dunia dan takut Mati” sebagaimana hadis,

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat) mengerumuni kalian (umat islam) dari berbagai penjuru (negara), sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya, ”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata, ”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

 

 

Lalu apa makna dari kemerdekaan hakiki? Kemerdekaan hakiki adalah ketika kita benar-benar bebas, merdeka, berdaulat agar hanya menghamba kepada Allah SWT semata.

Do’a yang sering kita baca dalam shalat:

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya bagi Allah Tuhan Semesta Alam.”

Selain itu Allah SWT memerintahkan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Nya saja. Firman Allah SWT dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya: “Dan tidaklah Aku Menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku).”

Agar seluruh aktivitas manusia dapat bernilai ibadah di mata Allah SWT seperti dalam bidang sosial budaya, pendidikan, ekonomi, dan politik, maka haruslah semua aktivitas tersebut diatur dengan aturan-aturan dari Allah SWT bukan dengan menggunakan aturan buatan manusia.

Maka dari itu, perjuangan kita saat ini adalah berjuang untuk bisa meraih kemerdekaan hakiki dengan dapat menerapkan aturannya dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga kita dapat menjadikan negeri ini baldatun toyyibatun ghafur (negeri yang penuh dengan berkah dan ampunan Allah SWT).

Caranya tiada lain yakni kita sebagai umat Islam harus saling membantu dan menguatkan dalam kebenaran, bukan malah menjadi penjegal atau penghalang kebenaran.

Selain itu, kita harus siap dan ikhlas dalam mengorbankan apa pun yang ada pada diri kita untuk memperjuangkan Islam ini agar tegak di muka bumi menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wa’Allahu a’lam bishawab. 

Follow Me

Kategori Post

Follow Us