Ladang Jihad Seorang Wanita

0 Comments

Hidup wanita dipenuhi ladang jihad fi sabilillah. Jika dia menjalaninya dengan senyum keikhlasan, tanpa keluh kesah dan penyesalan, surga sudah menanti di hadapannya. Satu di antaranya adalah berusaha meringankan beban pekerjaan suaminya, terkhusus di rumah.

Ini pula yang dijalani oleh para wanita utama dari kalangan shahabiyah Rasulullah saw. Satu di antaranya Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shaddiq, saudari satu ayah beda ibu dari Ummul Mu’minîn Aisyah ra.

“Aku dinikahi oleh Zubair (bin Awwam) yang tidak memiliki harta dan pelayan kecuali seekor unta (penyiram) dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan kudanya, menimba air dan menjahit geriba (tempat air dari kulit).

Aku pula yang membuat adonan gandum. Hanya saja, aku tidak pandai membuat roti. Itulah mengapa, para tetanggaku (kaum Anshar) yang membuatkan aku roti. Mereka adalah wanita-wanita terbaik.

Aku juga menjunjung buah kurma di atas kepalaku dari kebun yang diberikan Rasulullah saw. kepada Zubair sejauh dua pertiga farsakh (1 farsakh = 5.541 km).” (HR Al-Bukhari, No. 5224 dan Muslim, No. 2182)

Adakah di antara kita yang hidupnya lebih berat dari Asma’ binti Abu Bakar, salah seorang wanita ahli surga? Sesudah dan seberat apapun hidup, dia tidak pernah mengeluh, termasuk saat mendapati suami tak punya apa-apa.

Padahal, sebelum berhijrah ke Madinah, baik Asma’ maupun Zubair berasal dari keluarga terpandang Mekkah yang hidupnya berkecukupan.

Sungguh, keimanan membuat kesulitan dan aneka keterbatan hidup menjadi lebih ringan untuk dihadapi.