Tasq 11 Agustus

Amal dalam Kesendirian

Sahabat TasQ, Jangan sepelekan keadaan saat sepi sendiri. Apa yang dilakukan saat itu bisa menjadi indikator baik tidaknya keimanan seorang hamba. Apakah bisikan malaikat yang dominan di dalam hatinya ataukah bisikan setan yang kuat berakar dalam qalbunya.

Jika setan yang lebih dominan, dia akan menjadikan kesendiriannya sebagai ajang bermaksiat kepadanya.

Maka, ada satu nasihat dari Samurah bin Jundub ra. Dia berkata, “Siapa ingin mengetahui posisi (pengaruh) setan pada dirinya, hendaknya dia memperhatikan amal-amal yang dia lakukan saat sendirian.” (Az-Zuhd Li Ibnil Mubarak)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

11

Motivasi Masuk Surga

Sahabat TasQ, Tetaplah dalam ketaatan, lalu bersabarlah, istiqamahlah sampai ajal menjemput. Andaipun ada kesulitan, kesedihan dan cobaan di dunia, itu hanya sebentar. Selepas itu ada kenikmatan abadi yang Allah janjikan.

Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
“Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.”

Beliau lalu bersabda, “Bacalah firman Allah Ta’ala, ‘Tidak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan (QS As-Sajdah, 32:17)’.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

06

Menjalin Hubungan Baik

Sahabat tasQ, Kalau mampu, jadilah yang terbaik dalam segala hal, termasuk dalam menjalin persahabatan. Jangan berharap untuk diberi, Tapi, berharaplah agar bisa selalu memberi. Jadilah pendengar yang baik untuknya, mendoakan kebaikan di belakangnya, dan tidak pelit dalam membantu kala dia memerlukan bantuan.

Jauhkan diri dari label “teman terburuk”. Siapakah dia?

Al-Imam Abu Ja’far Muhammad mengatakan, “Seburuk-buruk kawan adalah dia yang memiliki perhatian kepada dirimu ketika engkau dalam keadaan kaya (jaya). Akan tetapi, dia memutuskan hubungan denganmu ketika engkau fakir.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 2:324)

WhatsApp Image 2020-06-25 at 09.20.36 (1)

Tunaikan Amal Kebaikan

Berbuat baik bisa kapan pun, bisa hari Sabtu, Ahad, Senin, Selasa, Rabu, atau Kamis. Akan tetapi, hari Jumat memang spesial. Allah Taala telah menjadikannya sebagai Sayyidul Ayyam, penghulunya hari-hari. Inilah hari raya pekanan kaum Muslim.

Maka, amal kebaikan yang kita lakukan pada hari Jumat, terkhusus tilawah Al-Quran, doa, shalawat dan sedekah atau infaq, terasa sangat istimewa.

Itulah mengapa, andaikan kita tidak punya kesempatan untuk berbagi kecuali hanya seminggu sekali, maka optimalkanlah hari Jumat sebagai hari berbagi. Sebagaimana disampaikan oleh Abdullah bin Al-Mubarrak, ulama besar dari kalangan tabiut tabiin, “Barangsiapa bersedekah dengan 1 dirham pada setiap Jumat, sesungguhnya dia telah menunaikan hak sedekah.”

WhatsApp Image 2020-06-20 at 07.12.01

Perbanyak Istighfar

Sanggupkah kita menghadapi beratnya Hari penghisaban karena dosa-dosa yang belum dimintakan ampunannya? Jika tidak sanggup, berusahalah untuk menyicilnya dari sekarang sehingga hisab kita menjadi lebih ringan dengan banyak beristighfar.

Dan, ingat pula, istighfar bukan sekadar menjadi sarana penghapusan dosa. Istighfar pun adalah pengundang hadirnya aneka keberuntungan dalam hidup.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.” (QS An-Nûr, 24:31)

Rasulullah saw. pun menegaskan, “Sungguh beruntung orang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR Ibnu Majah, No. 3818)

Adapun di antara bentuk keberuntungan itu adalah, “Siapa melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta’ala akan (1) menjadikan baginya jalan keluar atas segala kesusahannya, (2) kelapangan atas segala kesempitannya, dan (3) dia akan dikaruniai rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka olehnya.” (HR Abu Dawud, No. 1520 dan Ibnu Majah, No. 3951)

WhatsApp Image 2020-06-18 at 22.34.30

Petunjuk Jalan Yang Lurus

Sahabat tasQ, Hal terbesar yang diperlukan oleh manusia adalah: hidayah menuju jalan yang lurus. Maka, kita pun diperintahkan untuk mengulang-ulang doa, “Ihdina shirathal mustaqiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus,” di dalam shalat.

Mengapa demikian? Di dunia ini, manusia bagaikan musafir yang berjalan meninggalkan masa lalu menuju masa depan. Masa lalu tubuh biologisnya adalah tanah, masa depannya pun tanah. Adapun masa lalu tubuh ruhaniahnya adalah (dari) Allah dan masa depannya adalah (kembali kepada) Allah (QS Al-Baqarah, 2:156).

Maka, sebagai musafir, kebutuhan pertama dan utama manusia adalah “petunjuk” (hudan). Sesungguhnya, orang yang berjalan tanpa petunjuk, dia tidak akan sampai ke tempat tujuan.

Itulah mengapa, melihat sakralnya doa ini, Allah Ta’ala mewajibkan kita untuk membacanya dalam salat. Karena salat adalah tiang agama, kita bisa paham bahwa doa ini termasuk tiang dari tiangnya agama. Bukankah tiada salat bagi mereka yang tidak baca Al-Fatihah?

WhatsApp Image 2020-06-17 at 21.16.49

Keberkah di Waktu Pagi

Sahabat TasQ, Seorang laki-laki berkata pada Hudzaifah Al-Yamani ra., “Sehabis shalat Subuh tadi aku datang ke rumahmu, tetapi engkau tidak ada. Aku mengira engkau sedang tidur.” ⁣

Hudzaifah pun berkata, “Aku tidak suka apabila engkau menganggapku tidur pada jam-jam itu. Sesungguhnya, para sahabat tidak pernah tidur setelah shalat Subuh sampai mereka bekerja saat matahari terbit. Pada waktu-waktu itu (setelah shalat subuh sampai terbitnya fajar), mereka diperintahkan untuk berzikir.” ⁣

Maka, Abdurrahman Al-Auzâ’i (seorang ulama generasi tabi’in, wafat 157 H) berkata, “Apabila fajar menyingsing (atau sesaat sebelumnya) generasi salaf seakan dikelilingi oleh burung di atas kepala mereka. Mereka hanya diam. Bahkan, seandainya terdapat seekor merpati milik salah seorang dari mereka datang kembali ke rumah setelah pergi, pemiliknya tidak akan menoleh ke arah merpati tersebut. .⁣

Mereka akan tetap seperti itu sampai sesaat sebelum matahari terbit. Mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok ta’lim (kelompok diskusi). Adapun pembahasan yang paling mereka utamakan adalah soal akhirat, dilanjutkan dengan ilmu Al-Quran dan fikih.” (Abu Bakr Al-Thurthusy Al-Andalusi, Ad-Du’â’ Al-Matsûr)⁣